Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat optimis perekonomian daerah tumbuh positif di kisaran 5,30 hingga 6,00 persen pada 2026, didorong oleh hilirisasi bauksit, proyek strategis nasional, serta pengendalian inflasi yang terjaga.

Kepala KPw BI Kalbar, Doni Septadijaya, menyampaikan bahwa secara kumulatif hingga triwulan IV-2025, ekonomi Kalbar tumbuh 5,30 persen (yoy), mengalami percepatan dibanding periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 4,87 persen.

“Kinerja ini menunjukkan daya tahan ekonomi Kalbar di tengah perlambatan pertumbuhan global yang diprakirakan hanya 3,2 persen pada 2026,” ujar Doni saat Coffee Morning Bersama Media di Pontianak pada Selasa (10/2/2026).

Doni menjelaskan, stabilitas harga di Kalbar juga relatif terjaga. Inflasi tahunan Kalbar per Januari 2026 tercatat 0,27 persen (mtm), paling rendah dibanding provinsi lain di Kalimantan. Kalimantan Tengah misalnya, tercatat inflasi 0,38 persen, Kalimantan Selatan 0,20 persen, Kalimantan Timur 0,04 persen, dan Kalimantan Utara 0,10 persen.

“Inflasi rendah ini hasil sinergi Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) dan Gerakan Nasional Pengendalian Inflasi Pangan (GNPIP) yang konsisten menjaga stabilitas harga, terutama pangan bergejolak,” tambahnya.

Dari sisi sektor keuangan, kredit di Kalbar tumbuh 6,82 persen (yoy) mencapai Rp105,86 triliun, didominasi kredit modal kerja. Sementara Dana Pihak Ketiga (DPK) tumbuh 8,56 persen menjadi Rp88,20 triliun. Rasio kredit bermasalah (NPL) terjaga di 1,71 persen, jauh di bawah ambang batas aman.

Digitalisasi sistem pembayaran juga menunjukkan akselerasi signifikan. Hingga Desember 2025, jumlah pengguna QRIS di Kalbar mencapai 781.800 user, melampaui target 104 persen. Volume transaksi QRIS mencapai 64,9 juta transaksi atau 183 persen dari target, dengan 485.732 merchant yang sebagian besar (70 persen) merupakan usaha mikro.

“Ini bukti bahwa inklusi ekonomi digital di Kalbar semakin menguat. Kami terus mendorong perluasan akseptasi digital di tengah tantangan daya beli masyarakat,” ujar Doni.

Proyek strategis nasional di Kalbar juga menjadi lokomotif pertumbuhan. Hilirisasi bauksit melalui Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase II dan New Aluminium Smelter di Mempawah menyerap target investasi hingga Rp104,55 triliun. Selain itu, pengembangan Kawasan Industri Landak, Pulau Penebang, Ketapang, dan Alumina Toba dengan total investasi puluhan triliun rupiah terus berjalan.

Dari sisi ketahanan pangan, realisasi penyaluran beras SPHP di Kalbar mencapai 36,77 ribu ton atau 99,08 persen dari target. Bantuan pangan untuk 294.321 PBP juga telah terpenuhi 100 persen. Empat gudang pangan baru dibangun di Ketapang, Sambas, Landak, dan Bengkayang guna memperkuat cadangan pangan daerah.

“Ke depan, kami akan melanjutkan sinergi dengan pemerintah daerah dan perbankan untuk mendorong pertumbuhan berkelanjutan, menjaga stabilitas harga, serta memperkuat UMKM dan ekonomi syariah,” tutup Doni.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *