Pontianak (EK) – BPJS Ketenagakerjaan Kantor Wilayah Kalimantan menggandeng Bank Indonesia (BI), Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat, dan pelaku UMKM dalam program “Bersinergi, Berliterasi, Berdaya” sebagai upaya meningkatkan literasi keuangan sekaligus memberdayakan penerima manfaat agar mampu mengembangkan usaha secara mandiri.Kegiatan yang berlangsung di Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat itu diikuti sekitar 75 peserta, terdiri dari penerima manfaat BPJS Ketenagakerjaan dan pekerja yang memasuki masa pensiun.
Kepala Kantor Wilayah BPJS Ketenagakerjaan Kalimantan, Faizal Rachman, mengatakan program tersebut merupakan kolaborasi pertama di Indonesia yang melibatkan BPJS Ketenagakerjaan, BI, dan OJK secara menyeluruh dalam memberikan pembekalan kepada penerima manfaat.
“Ini baru pertama kali kami lakukan, bukan hanya di Kalimantan tetapi juga di Indonesia dengan kolaborasi yang lengkap bersama BI dan OJK. Harapannya model ini dapat menjadi contoh secara nasional,” ujarnya.
Menurut Faizal, selama ini BPJS Ketenagakerjaan hanya memastikan santunan dibayarkan kepada peserta atau ahli waris. Namun, pihaknya belum mengetahui bagaimana dana tersebut dimanfaatkan setelah diterima. Karena itu, BPJS Ketenagakerjaan ingin memastikan manfaat yang diberikan tidak hanya bernilai secara nominal, tetapi juga mampu meningkatkan kesejahteraan keluarga melalui kegiatan produktif.”Kami ingin memastikan dana manfaat benar-benar menjadi modal untuk melanjutkan kehidupan, membuka usaha, dan meningkatkan taraf hidup penerima manfaat,” katanya.
Selain penerima manfaat, kegiatan ini juga menyasar pekerja yang akan memasuki masa pensiun agar memiliki perencanaan pemanfaatan dana Jaminan Hari Tua (JHT) sebelum berhenti bekerja.Dalam pelatihan tersebut, peserta memperoleh materi mengenai pengelolaan keuangan, literasi digital, investasi yang aman, hingga pembekalan kewirausahaan dari berbagai instansi.
Kepala Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat, Doni Septadijaya, mengatakan peningkatan literasi keuangan menjadi fondasi utama sebelum seseorang memulai usaha.
Menurutnya, keberhasilan sebuah usaha sangat bergantung pada kemampuan mengelola keuangan dengan baik.”Kami memulai dari peningkatan literasi keuangan. Ketika masyarakat sudah memahami cara mengelola keuangan, maka langkah menuju dunia usaha akan jauh lebih mudah.
Ke depan, Bank Indonesia juga akan memperkuat kolaborasi dengan berbagai pihak untuk mendukung pengembangan usaha peserta,” jelas Doni.
Sementara itu, Kepala OJK Provinsi Kalimantan Barat, Ahmad Priyono, mengapresiasi inovasi kolaborasi tersebut karena tidak hanya menyerahkan santunan, tetapi juga membekali penerima manfaat agar mampu mengembangkan kehidupannya secara berkelanjutan.
Ia menilai edukasi mengenai investasi legal dan keamanan transaksi digital menjadi kebutuhan penting di tengah maraknya penipuan berbasis digital.
“Melalui kolaborasi ini, penerima manfaat dibekali kemampuan mengelola dana dengan baik sehingga tidak menjadi korban investasi ilegal maupun penipuan digital. Harapannya kualitas hidup mereka dapat meningkat,” ujarnya.
Mewakili Gubernur Kalimantan Barat, Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi Kalbar, Drs. Ahmad Priyono, M.M., mengatakan penggunaan dana klaim selama ini masih didominasi kebutuhan konsumtif sehingga diperlukan edukasi agar dana tersebut dapat dimanfaatkan sebagai modal usaha yang produktif.
Ia menyebut nilai manfaat yang telah disalurkan kepada peserta BPJS Ketenagakerjaan di Kalimantan Barat mencapai sekitar Rp759 miliar, sehingga pemberdayaan penerima manfaat menjadi langkah penting dalam menciptakan kesejahteraan jangka panjang.
BPJS Ketenagakerjaan juga mencatat sepanjang 2025 telah membayarkan 81.422 klaim di Kalimantan Barat.
Sementara hingga 30 Juni 2026, jumlah klaim yang telah dibayarkan mencapai 49.237 klaim atau sekitar 60 persen dari total realisasi sepanjang tahun sebelumnya.
Melalui sinergi lintas lembaga tersebut, BPJS Ketenagakerjaan berharap dana manfaat yang diterima peserta tidak hanya menjadi bantuan sesaat, tetapi mampu bertransformasi menjadi peluang usaha yang aman, produktif, dan berkelanjutan sehingga memberikan kesejahteraan bagi keluarga penerima manfaat.
Ditempat yang sama Suhuri Kepala BPJS Ketenagakerjaan menambahkan BPJS Ketenagakerjsan ingin membangun pemahaman bahwa manfaat BPJS Ketenagakerjaan bukan sekadar santunan ketika risiko terjadi, tetapi juga merupakan instrumen yang dapat membantu peserta bangkit dan kembali produktif.
Dengan dibekali literasi keuangan yang baik, peserta dapat mengelola manfaat yang diterima secara tepat, baik untuk memenuhi kebutuhan keluarga maupun mengembangkan usaha yang berkelanjutan.
Sinergi bersama Bank Indonesia, OJK, dan Pemerintah Daerah menjadi langkah strategis agar edukasi ini dapat menjangkau masyarakat secara lebih luas,”Ujar Suhuri