Kuching, Sarawak (EK) – Di tengah hiruk-pikuk Plaza Merdeka, Kuching, aroma panggang yang khas berpadu dengan sentuhan manis buah tropis berhasil mencuri perhatian ribuan pengunjung Ekspo Hasil Hutan Bukan Kayu (NTFP) Zona Selatan. Di balik stan sederhana 101 Coffee House, tersembunyi pusaka rasa Nusantara yang mulai langka: kopi Liberika asal Kalimantan Barat.

Pemerintah Provinsi Kalimantan Barat melalui Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan (DLHK) sengaja mengutus sejumlah mitra binaan dalam ajang bergengsi yang digelar Jabatan Hutan Sarawak mulai 31 Juli hingga 9 Agustus 2026. Mengusung tema “Support Local Hands, Sustain Natural Lands”, ekspo ini menjadi panggung sempurna bagi 101 Coffee House untuk memperkenalkan Liberika—bukan sekadar kopi, melainkan warisan rasa yang perlahan tergusur oleh dominasi Arabika dan Robusta.

“Alhamdulillah, kami sangat bersyukur bisa hadir di sini,” ujar Siti Masitha, Owner 101 Coffee House, saat ditemui di sela-sela kesibukannya meracik kopi, Kamis.

“Kami membawa andalan utama, yaitu Liberika dan Robusta, yang seluruhnya bersumber dari mitra petani binaan kami di Sendoyan, Sambas, Landak, hingga Pasak Piang, Kubu Raya,” tambahnya

Lantas, apa yang membuat Liberika begitu istimewa hingga layak disebut ‘ratu langka’? Siti Masitha menjelaskan bahwa spesies kopi purba yang berasal dari Liberia, Afrika Barat ini memiliki ketahanan luar biasa terhadap hama dan tumbuh subur di lahan gambut asam khas Kalbar. Namun, daya tarik utamanya terletak pada profil sensorialnya yang unik.

“Jika Arabika dikenal dengan keasaman cerah dan Robusta dengan keberanian pahitnya, Liberika hadir dengan karakter yang sama sekali berbeda. Kadar kafeinnya jauh lebih rendah, sehingga aman bagi pecinta kopi yang memiliki masalah lambung. Yang lebih memukau, ia meninggalkan aftertaste fruity yang sangat kuat persis seperti aroma pisang ambon matang dan nangka yang justru menjadi signature rasa khas Kalbar,” paparnya dengan semangat.

Kehadiran 101 Coffee House seakan membuka mata pengunjung ekspo. Awalnya banyak yang skeptis, karena pasar Sarawak lebih akrab dengan robusta pekat atau arabika impor. Namun, begitu cangkir-cangkir kecil berisi seduhan Liberika disajikan, decak kagum pun pecah. Pengunjung berbondong-bondong mengantre untuk sekadar mencicipi.

Siti Masitha tidak bisa menyembunyikan rasa bangganya atas sambutan luar biasa tersebut. “Mereka tidak menyangka bahwa kopi Indonesia, khususnya Liberika Kalbar, memiliki kompleksitas rasa yang tidak kalah dengan merek-merek internasional yang sudah mendunia. Bahkan, beberapa pemilik kafe lokal di Sarawak mulai melirik untuk menjadikannya menu andalan,” ungkapnya.

Lebih dari sekadar ajang promosi, partisipasi 101 Coffee House di NTFP Sarawak 2026 adalah langkah strategis membuka gerbang ekspor. Harapan besarnya, Liberika tidak hanya dikenal di pameran, tetapi juga mendapatkan buyer tetap yang mau menyebarkan cita rasa Kalbar ke seluruh penjuru dunia. Hal ini sejalan dengan upaya mengangkat kesejahteraan petani kopi binaan di daerah hulu.

Ekspo yang berlangsung hingga 9 Agustus ini juga menjadi ajang kolaborasi. Selain 101 Coffee House, rombongan utusan DLHK Kalbar turut diisi oleh perwakilan Yayasan PRCF Indonesia, SAMPAN Kalimantan, INTAN, dan BP2SDM. Sinergi ini menunjukkan bahwa kopi Liberika bukan hanya soal bisnis, tetapi juga tentang keberlanjutan alam dan kebanggaan akan hasil hutan bukan kayu dari tanah air.

Dengan keberanian Liberika menembus pasar Sarawak, satu hal menjadi jelas: Nusantara tidak hanya kaya akan rempah, tetapi juga memiliki mutiara hitam bernama Liberika Kalimantan Barat yang kini siap bersaing di kancah global.

By admin

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *